Pastor’s letter

Gereja Kristen Indonesia – Seattle bertekad mengikuti pengajaran Firman Tuhan dengan setia dan mengajarkannya kepada Jemaat di setiap kegiatan ibadah dan persekutuan yang ada di dalam gereja ini. Apalagi pada masa jaman akhir ini, Alkitab sudah memberikan peringatan bahwa akan munculnya ajaran-ajaran yang menyesatkan dan guru-guru palsu. Tidak luput pula keadaan jaman yang semakin bebas dan terbuka ini, keadaan denominasi PC-USA dan budaya di Amerika era post-modern ini mulai memasuki dan mempengaruhi peraturan dan hukum tata gereja kita. Namun GKI-Seattle bertekad untuk tetap setia mempertahankan kebenaran Firman Tuhan di tengah-tengah perubahan yang sedang melanda denominasi kita ini.

Pada pertemuan Sidang Raya yang dilakukan dua tahun sekali, di mana dalam rapat yang diadakan pada tgl. 30 Juni – 7 Juli 2012, telah menghasilkan perubahan tentang pelantikan para pejabat gereja, baik itu pendeta, penatua, diaken yang homo-seksual dan bagi mereka yang tidak menikah, tidak harus hidup selibat. Perubahan ini dimasukkan dalam tata-gereja yang dikenal dengan istilah Amandment 10-A. Tentunya hal ini menimbulkan reaksi yang kontroversial, sehingga ada gereja yang tidak setuju menyatakan untuk ke luar dari PC-USA, ada yang menggabungkan diri dengan denominasi baru yang dibentuk karena alasan-alasan ini, antara lain: ECO atau the Fellowship. Atau berpindah ke denominasi yang lain. Tidaklah heran, di dalam sejarah gereja terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat yang mengakibatkan perpecahan, tetapi marilah kita tidak berfokus kepada perbedaan yang memecahkan, tetapi lebih berfokus kepada Tuhan yang empunya gereja dan yang berdaulat atas umat-Nya.

Dalam situasi ini, di manakah posisi GKI-Seattle dan apakah GKI-Seattle akan meninggalkan PC-USA ?  Majelis GKI-Seattle saat ini tidak membicarakan hal ini, karena alasan berikut:

Pertama, kami percaya bahwa kesatuan Jemaat amatlah penting, karena Alkitab sendiri banyak membicarakan hal ini, bahkan Tuhan Yesus sendiripun sangat mengutamakannya. Oleh karena itu, kami juga memprioritaskan soal kesatuan ini dan sebagai Majelis saat ini melihat denominasi kita tidak menghalangi Jemaat GKI-Seattle di dalam menjalankan misi yang Tuhan Yesus amanatkan maupun kehidupan yang setia dan taat kepada Firman Tuhan.

Kedua, kita perlu sebagai Jemaat mengevaluasi kembali keputusan yang pernah diambil oleh para Majelis di tahun yang lalu dan memohon hikmat Roh Kudus bagi Jemaat GKI-Seattle.

Ketiga, tindakan untuk meninggalkan PC-USA membutuhkan waktu, tenaga, pikiran yang akan  mengganggu dan mengalihkan perhatian kita dari visi utama yang Tuhan percayakan kepada kita, yaitu menjadi Jemaat komunitas Indonesia Amerika yang bertekad untuk memuridkan Anggotanya dan menjadi saksi Kristus yang setia bagi kota Seattle dan sekitarnya.

Kiranya Allah yang penuh kasih dan rahmat yang akan menuntun, menopang, melindungi dan mencukupi kebutuhan dan pergumulan GKI-Seattle di dalam menjalankan misi agung dari Tuhan Yesus, dan partisipasi kita sebagai Jemaat Tuhan di dalam melakukan pekerjaan Allah di dunia ini.

 

Teriring salam dan doa,

Pendeta Kolinus Buntaran

Gembala Sidang GKI-Seattle

 

 

IPC-SEATTLE STAND on CHASTITY/FIDELITY FOR ORDAINED OFFICERS

At IPC-Seattle, we believe all Christians are bound by Scripture so that whatever Scripture teaches, we must teach as best we understand it even if it challenges our predominant non-Christian culture or contemporary American church culture.

Posisi GKI Seattle PERIHAL kemurnian hidup dari pejabat gereja

Kami percaya bahwa setiap orang Kristen tunduk akan otoritas Alkitab, sehingga apa yang Alkitab ajarkan, kita juga harus ajarkan sebaik mungkin, walaupun ajaran itu bertentangan dengan nilai-nilai kebudayaan dunia saat ini maupun kebudayaan gereja Amerika yang modern.

We believe Scripture teaches that we are saved by faith in Jesus and not by our own obedience.

Therefore, we teach the gospel of grace which saves sinners and invite people to trust Jesus as Leader and Forgiver and become Christians. We welcome all people as part of our community of faith regardless of where they are in their spiritual journey or of any behaviors they are engaged in.

Kami percaya bahwa Alkitab mengajarkan bahwa kita diselamatkan hanya oleh iman di dalam Yesus Kristus dan bukan karena usaha kita pribadi.

Oleh karena itu, kami mengajarkan injil karunia yang menyelamatkan dan mengundang orang yang berdosa untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai pemimpin, pengampun dan menjadi orang Kristen. Kami menyambut semua orang untuk menjadi bagian dari gereja kami tanpa memandang latar belakang spiritual atau gaya hidup mereka.

 

We believe Scripture teaches that all sin destroys life. Jesus showed mercy toward acknowledged sinners and judgment toward the self-righteous, whose sins were more culturally accepted or somewhat less visible such as pride, greed, envy, apathy, hatred, dissention, gluttony, and so on.

Therefore we teach Christians to recognize and renounce sin in all its forms, without prejudice or emphasis on sexual sins as worse than other sins before God. And we teach Christians to humbly accept Christ’s mercy given through the cross and pursue holiness in all of life through the sanctifying work of the Holy Spirit.

Kami percaya bahwa Alkitab mengajarkan bagaimana semua jenis dosa mampu menghancurkan kehidupan. Yesus menunjukkan belas kasihan kepada orang yang berdosa, dan menghakimi kepada orang yang menganggap dirinya benar yang dosanya tidak terlalu menyolok seperti kesombongan, keserakahan, iri hati, kebencian, dll.

Oleh karena itu, kami mengajarkan jemaat untuk mengenal dan menjauhi semua bentuk dosa, tanpa prasangka atau tanpa menekankan dosa seksual sebagai dosa yang lebih berat daripada dosa-dosa lain. Kami mengajarkan jemaat untuk dengan rendah hati menerima karunia Yesus yang Ia berikan melalui karya salib, dan mengejar kesucian dalam semua aspek  kehidupan dengan mengandalkan Roh Kudus yang selalu menyucikan kita.

We believe Scripture teaches that sexual holiness is expressed through faithfulness within the covenant of marriage between a man and a woman as established at creation by God or through embracing a celibate life as established in the new covenant by Jesus, who experienced human desires but without sin.

Therefore we teach Christians to submit their sexual desires to God and pursue holiness and wholeness as defined by Scripture and demonstrated by Jesus and the apostles. Our pastor perform Christian weddings which marry a man and a woman.

 

Kami percaya bahwa Alkitab mengajarkan kemurnian kehidupan seksual dalam bentuk kesetiaan dalam ikatan perjanjian pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita, seperti yang ditetapkan pada waktu penciptaan oleh Allah, atau memeluk kehidupan selibat seperti Yesus di perjanjian baru yang walaupun Ia memahami akan keinginan-keinginan manusia, namun Ia tidak berbuat dosa.

Oleh karena itu kami mengajarkan kepada jemaat untuk menyerahkan keinginan seksual mereka kepada Allah dan mengejar kesucian hidup seperti yang diajarkan oleh Alkitab dan yang ditunjukkan oleh Yesus dan para rasul. Pendeta di gereja kami hanya menyelenggarakan dan memberkati pernikahan Kristen antara seorang pria dan seorang wanita.

 

We believe Scripture teaches that God’s people are to demonstrate love to all people: other Christians, family members, neighbors, strangers, immigrants, and even enemies regardless of other people’s age, gender, race, ethnicity, religion, economic resources, nationality, and moral choices. Indeed, Scripture teaches that Christians are citizens of Christ’s Kingdom, salt and light and a blessing to the world, and to imitate Jesus as He demonstrated love to the poor, the sinful and the outsiders of His culture, rejecting prejudice and bigotry, as He was guided by the Holy Spirit.

Therefore, we teach Christians to demonstrate love to the poor, the sinful and the outsiders in our culture rejecting prejudice and bigotry, as we are guided by the Holy Spirit. We teach that Christians may be led by the Holy Spirit to quite different ways of living out Christ’s call to love their neighbor in our fallen world which does not affirm Christian beliefs.

Kami percaya bahwa Alkitab mengajarkan umat Tuhan untuk mengasihi semua orang: orang Kristen yang lain, anggota keluarga, tetangga, orang asing, immigran, musuh dengan tanpa memandang umur, jenis kelamin, ras, suku, agama, kaya/miskin, kebangsaan dan pilihan2 moral. Sesungguhnya, Alkitab mengajarkan orang Kristen yang adalah warga negara Kerajaan Allah untuk menjadi garam dan terang, yang menjadi berkat bagi dunia ini, dan meneladani Yesus dalam menunjukkan kasih kepada orang yang miskin, yang berdosa, dan yang diluar lingkungan kebudayaannya. Dengan bimbingan dari Roh Kudus, kita menolak rasa prasangka dan sifat fanatik.

Oleh karena itu, kita mengajarkan umat Kristen untuk menunjukkan kasih kepada yang miskin, yang berdosa, yang berada diluar kebudayaan kita. Dengan bimbingan dari Roh Kudus, kita menolak rasa prasangka dan sifat fanatik. Kita mengajarkan bahwa umat Kristen dapat dibimbing oleh Roh Kudus dengan bentuk yang berbeda-beda dalam memenuhi panggilan Yesus untuk mengasihi sesama di tengah-tengah dunia yang menolak kepercayaan Kristen.

We believe Scripture teaches that all believers will not always agree so are called to be completely humble, gentle, patient, and to bear with one another in love as we all mature in faith and wait upon God to make clear what isn’t yet clear or clear to some. Indeed Scripture teaches that members of Christ’s Body are to honor the other members in their different gifts and specific calling.

Therefore we teach Christians to seek unity, disagree respectfully, and in all things seek to submit ourselves to the authority of Scripture.  Scripture, not our own opinions or culture’s dictates, is to be our rule.

Kami percaya bahwa Alkitab mengajarkan orang percaya yang walaupun dalam perbedaan, untuk tetap rendah hati, lemah lembut, sabar dan menanggung satu dengan lain dalam kasih, mengingat bahwa kita semua sedang bertumbuh dalam iman dan bergumul dalam menanti petunjuk dari Tuhan. Sesungguhnya, Alkitab mengajarkan agar setiap anggota tubuh Kristus untuk menghargai anggota lainnya yang mempunyai karunia yang berbeda dan panggilan khusus.

Oleh karena itu kita mengajarkan umat Kristen untuk mengejar persatuan, tetap menghormati walaupun berbeda pendapat,. Dan dalam segala sesuatunya, untuk tetap tunduk kepada otoritas Alkitab. Alkitablah yang menetapkan peraturan, bukan pendapat pribadi atau tuntutan budaya masa kini.

We believe Scripture teaches that leaders of the church are called to maintain a higher standard of faith and obedience and those leaders who sin and repent are to be forgiven and may be removed from leadership until a restoration process is complete.

Therefore, we teach Christian leaders to confess their sins to God and a trusted counselor, and to be forgiven, restored, and made whole through the power of the Holy Spirit.  Any ordained leaders (deacons, elders, pastors) who do not acknowledge as sin any behavior that Scripture calls sin shall not serve in an ordained leadership role.

Kami percaya bahwa Alkitab mengajar para pejabat gereja untuk mempunyai standar iman dan ketaatan yang lebih tinggi. Bagi para pejabat gereja yang berdosa dan bertobat, dosanya akan diampuni, namun posisi kepemimpinannya akan di non-aktifkan sampai proses restorasi selesai.

 

Oleh karena itu kami mengajarkan para pejabat gereja untuk mengakui dosa2nya kepada Tuhan dan bekerja sama dengan konselor yang terpercaya, supaya dapat mendapatkan pengampunan dari Tuhan, dan pemulihan yang seutuhnya melalui kuasa dari Roh Kudus. Bagi para pejabat gereja yang menolak untuk mengakui bahwa mereka melakukan hal yang berdosa dalam hal yang Alkitab katakan sebagai dosa, mereka akan tidak diijinkan untuk melayani dalam posisi kepemimpinan gereja.